Rabu, 17 November 2010

sedikit acak-acakan

satu kamar, dua orang
mereka selalu mengobrol. kadang berdebat.

tama: "kau selalu membuatku kesulitan mengatakan semua. pada hal aku ingin mengatakan semua dengan rapih dan sistematis.."
ode: "katakan saja. tentang apa, perempuan? pekerjaan? temanmu? masalah? katakan saja! aku akan mendengarkanmu."
tama: "ya, kau selalu tampak membantu. ...sebenarnya justru sebaliknya."
ode: "mau katakan ya katakan saja. nggak usah sinis gitu. atau sudah nggak mau ngomong sama aku? realistis lah! aku yang ada di hadapanmu, dan aku di sini bersamamu."
tama: "jika mereka tidak jauh, tentu aku lebih memilih mereka untuk jadi pendengarku.."
sambil melempar tawa kecil yang menjengkelkan tama, ode mengambil sebatang rokok dan membakar ujungnya. kemudian di sisapnya dalam-dalam.
ode: "kau hampir prustasi kemari. kenapa?"
tama: "bisa nggak, gak pake rokok?"
ode: "enggak."
dan perbincangan membosankan kembali terjadi. kali ini mereka kembali berdebat. kadang pembicaraan mereka begitu tak berguna dan duma membuang waktu. tapi di beberapa saat tama merasa dapat di dewasakan. sayangnya tama lebih sering menemukan keputus asaan.

diri bukan menjadi diri
terselubung kabut dalam hati,
sulit ku mencari diri
kecilnya tangan dan merah,
pangkas kuasa ku gapai diri
saat teman temukannya,
aku hanya mengukur diri


jam 5 pagi. tama dan ode bersama banyak teman sepekerjanya telah berlama-lama menunggu bis jemputan yang akan membawa mereka menuju tempat upacara kemerdekaan negaranya. hampir semua karyawan hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam. dua tiga orang membawa kamera digital. tama sedikit menonjol dengan ransel besar di sebelah kakinya. ode mengenakan sweeternya dan satu tas kecil di pinggang yang berisi hp, sapu tangan, dan tentu bungkus rokok yang salah satu isinya menempel di mulutnya.
tama: "kau menghargai negara ini?"
ode: "nggak usah yang aneh-aneh deh!!"
ode membuang rokoknya yang tinggal separuh saat bis menuju para karyawan. puntung itu terpental dan hampir melubangi tas tama. "ku rasa enggak.." gumam tama. semua masuk bis. menuju jakarta.
tama heran kenapa ode begitu tidak menghargai negaranya. padahal itu sama saja dengan menghargai sebuah komunitas. hanya beda skala saja. seperti halnya menghargai rumah sendiri, kota kelahiran sendiri. tama bertanya-tanya, benarkah tidak ada seorang pun yang menghargai bumi sepeti keluarga mereka sendiri? bukankah itu hanya perbedaan skala?

jam 12 siang. dua orang lelaki berbaur dengan banyak orangyang sedang ada urusan dengan 'bepergian'. ini stasiun pasar senen. sedikit cuti dan rangkaian tanggal merah akan memperpanjang libur. tama akan pulang kampung. ode menemani tama. rel yang di lewati tama mengalami sedikit masalah. perjalanan lebih lama dari biasanya. 21jam dalam kelas ekonomi yang sesak di tambah banyaknya asongan dan pengamen terasa memuakkan kali ini. tama dan sup sesekali bercakap, tapi sama sekali tidak saling menghibur.

turun dari kereta api. ribuan pasang kaki menginjak kota tujuan. tama pulang. ode menebar pandang ke kota yang tak asing itu.
penyegaran dan pemulihan dari gerbong kotor dan sesak. tama selesai mandi di kamar mandi umum. menyisir rambutnya di depan cermin.
ode: "aku ikut ke rumahmu."
tama: "aku nggak punya banyak waktu di sini. jangan ganggu aku."
ode: "aku nggak pernah ganggu. kau tahu itu." sambil meniup asap roko dari ujung birirnya yang di runcingkan. membuat asap meluncur maju ke depan.
tama: "jangan sampai ganggu urusanku." menyemprot parfum ke kaosnya.
tama tak berkutik. selain ode selalu benar saat memberi alasan untuk menyangkal, dia juga bisa membuat masalah.
semua di masukkan ke dalam tas. dan tujuan berikutnya: rumah.

sabtu siang (dekat stasiun)
tama menyapa teman baiknya
sabtu sore (rumah)
tama memandang wajah-wajah keluarganya
tama menyapa keluarga teman baiknya di kampung
sup membeli sebungkus rokok mahal
sabtu malam (kampung)
tama mengajak adiknya jalan-jalan ringan dan membelikan makan malam untuk bapak dan neneknya. waktu sempit kayak gini jangan di sia-siakan buat hal nggak penting, pikir tama.tama mengunjungi teman cerita.
sup membuka bungkus rokok kelas berat. di taruhnya di tengah-tengah gerombolan teman nongkrong yang lama tak jumpa. sengaja dia tidak bawa korek agar teman-temannya nggak segan-segan ngambil rokok.
sabtu larut malam (rumah teman)
sofan: "ntar begadang aja. nonton anak-anak beraksi."
ode: "siip! biar tontonannya kurang ok, yang penting banyak temen. have fun!"
tama: "males lah! nggak mutu.."
sofan: "sebenernya aku juga agak males sih nontonnya.. ngumpul di warkop gimana?"
ode: "nah, boleh tuh.."
tama: "si sini aku kan cuma bentar. sayang waktunya. main kerumah ku aja sof.."
ode: "itu baru bikin malam sia-sia."
sofan berfikir, dan mengambil keputusan.
sofan: "ok, gitarnya bawain, nih!"
tama menang. ode pergi
minggu pagi (rumah tama)
bapak tama menanyakan materi
nenek tama menanyakan materi
teman menanyakan materi
nenek tama menanyakan materi
beberapa family menanyakan materi
nenek tama meminta materi
tama memberi adiknya materi
saudara teman menanyakan materi
tama mengingat-ingat materi


satu kotak besar,
dua lingkaran kecil di dalamnya.


lingkaran putih: "materi itu penting ya?"
lingkaran hitam: "ya. mana bisa bahagia tanpa materi? ini dunia."
putih: "mungkin bisa."
hitam: "sulit banget!"
putih: "tapi bisa."
hitam: "enggak. kurasa enggak..."
putih: "..."
hitam: "Tuhan menciptakan kemampuan kan? itu petani mu. materi hasil panennya. tiap orang punya petani sendiri-sendiri. tapi mungkin beberapa petani beda ukura."
putih: "jadi ini memang salah ku?"
hitam: "itu biasa, bukan? santay saja..."
putih: "aku ingin kau diam."


hitam keluar dari kotak.
lingkaran putih menuju sudut dan diam.
kemudian perlahan menjadi transparan.
tak lama kemudian,
tak ada lingkaran dalam kotak.
kotak di penuhi penyesalan.

Minggu, 14 November 2010

lonely (judul asli juga)

tengah malam dalam kamarnya yang tinggi nangkring aja di atas kusen jendela yang lebar. kala yang lain meringkuk terpejam dan memanja di tengah malam, ia malah menikmati dingin angin basah dari gerimis yang lama di rindukan. dia yang bersyukur nggak lagi berinteraksi dg rumah dan isinya. dia yang membayangkan apa yg di lakukan teman2nya di kejauhan sana. yang mimpinya nggak pernah utuh. yang hampir bego oleh rangsangan2 kecil. akrab sekali dg kesendirian. hingga sering merindukan.

itu 4 tahun yg lalu


yang ini dari friendster juga. ku tulis tanggal 20 juli 2008.
aku mengingat masa PKL dulu. kesendirian yang mengawal masa lepasnya keinginan bocah, saat diri mulai ingin di akui. kesendirian di masa remaja. 

kepal tangan lelaki (judul asli)

gerakan2 kecil yang menghinakan telah tertambat dalam fisikku. tanpa sadar hinotis setan telah manjadi bagian dalam diri. aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
fitrahku menggeliat ingin menggapai kemulyaan bersama manusia2 paling beruntung di sisih Allah.
maka mensucikan raga adalah keharusan. membersihkan jiwa adalah kuwajiban. pengendalian diri tanpa henti adalah penangkal penjerumusan oleh setan.
adalah Allah Hajjawazallah yang akan membantu. tentu dengan khusyu’ doa.
semoga bisa aku kembali dalam arus indah yang akan menerangi dunia.semoga bisa kembali ku bersama mereka. menikmati setiap pijakan kaki dalam ridho Illahi. meski kadang tertusuk duri.
ya Allah selipkan sedikit kekuatanmu pada jiwa dan ragaku. untuk dayaku meluluh lantakkan hawa nafsu. untukku beringas dalam ke-khusyu’an berlari menujumu.

di blog friendster ku, catatan itu tertulis tanggal 23 agustus 2008.
aku merindukan perasaan saat menulisnya...

bendungan cinta

ini tentang cinta dua insan.

begini saya menggambarkan cinta itu: saya punya banyak danau. danau cinta. ada yang airnya berwarna hijau, biru, putih, ada juga merah jambu. nah untuk danau yang pink ini, letaknya berada di tengah tanggul, dan suatu saat nanti harus di alirkan-untuk menenggelamkanku ikut arus bersama seorang perempuan. maka harus ku bangun pintu bendungan yang akan mengalirkannya kelak.

air di sana seperti hidup dan mengajakku bicara. suatu saat dia bertanya:
"kenapa lama sekali membendungku? aku bosan kau tahan."
"bersabarlah, aku belum siap berlayar"
beberapa saat dia juga berseru:
"lihat perempuan yang lewat di depan pintu bendungan itu, anggun sekali. bukalah kuncinya!"
dan jawabanku masih sama.
pernah juga dia berkata:
"kenapa menahanku dengan bendungan? kenapa tidak membiarkanku mengalir dan menemukan perempuan untuk bermuara? kenapa harus menunggu?"
"karna kau di ciptakan spesial oleh Tuhan" ini lah jawaban yang paling ku sukai.

ya, air yang berwarna indah itu hampir tak sabar ingin segera membahagiakan seorang wanita dengan alirannya yang membuai. tapi aturan tetap aturan. pintu air akan ku buka penuh hanya setelah aku menikah. ya, penuh ku buka agar meluap semua sekalian. agar lebih kuat gelombang yang menghantam. agar tenggelam dalam kami terhanyutkan.

aku memegang kunci bendungan ini. sering kali isi bendungan ku bergejolak saat ada gadis anggun berjalan lewat di depan pintu bendungan, tapi selama aku belum selesai berkemas dan mencukupi bekal untuk pelayaran ku, aku gak akan membuka kunci untuk siapapun. meski kadang isi danau bergejolak kuat oleh pesona beberapa wanita yang di inginkannya, tapi tetap harus ku simpan kunci ini.
"tenang lah dulu gelombang mulia.. bidadarimu gak akan salah arah."
"bersabarlah cinta..."

Kamis, 04 November 2010

emotion controller is not working (judul sebelum di edit)

dan serapih apapun kita menata isi kepala, kemudian berusaha menyampaikannya secara sistematis --- selama apapun itu kita usahakan, maka akan berantakan begitu saja jika emosi di ikut sertakan. gak tau benar atau salah, yang jelas itu yang sedang saya rasakan saat ini.


kemudian muncul pertanyaan, apa yang membuat saya begitu emosi hingga membuat semua jadi gak terarah?

aku lupa kapan tepatnya menulis catatan itu, yang jelas itu ada di daftar entri yang belum ku terbitkan. dan sekarang, secara tidak sengaja ku buka saat aku memikirkan hal yang sama. ya, mirip sekali. perasaan berantakan karna tidak ketemunya hasil diskusi yang di sebabkan emosi. tentu perasaan ku tidak akan berantakan jika tidak berefek pada orang lain. yang mengkhawatirkan adalah ketidaknyamanan orang lain atas pendapat ku. tapi ku pikir aku mengerti betul yang ku bicarakan. cuma penyampaian aja yang salah hingga sulit di terima.

jadi aku memang harus minta maaf.

yang sedikit menarik adalah: aku ingat betul, di draft yang belum ku terbitkan di atas, aku sedang terpengaruh oleh interaksi dengan orang yang sama dengan yang mempengaruhiku saat ini. memang lupa kapan tepatnya interaksi yang lalu itu, tapi jelas dengan orang yang sama.
dan jadinya, ku pikir interaksi dengan orang ini memang membawa pengaruh yang lumayan di fikiranku pada saat2 ini. dan aku masih juga belum yakin ini adalah hal baik atau sebaliknya.
harus segera di pastikan karna dia seorang perempuan. dan aku belum siap bersama perempuan