Minggu, 14 November 2010

bendungan cinta

ini tentang cinta dua insan.

begini saya menggambarkan cinta itu: saya punya banyak danau. danau cinta. ada yang airnya berwarna hijau, biru, putih, ada juga merah jambu. nah untuk danau yang pink ini, letaknya berada di tengah tanggul, dan suatu saat nanti harus di alirkan-untuk menenggelamkanku ikut arus bersama seorang perempuan. maka harus ku bangun pintu bendungan yang akan mengalirkannya kelak.

air di sana seperti hidup dan mengajakku bicara. suatu saat dia bertanya:
"kenapa lama sekali membendungku? aku bosan kau tahan."
"bersabarlah, aku belum siap berlayar"
beberapa saat dia juga berseru:
"lihat perempuan yang lewat di depan pintu bendungan itu, anggun sekali. bukalah kuncinya!"
dan jawabanku masih sama.
pernah juga dia berkata:
"kenapa menahanku dengan bendungan? kenapa tidak membiarkanku mengalir dan menemukan perempuan untuk bermuara? kenapa harus menunggu?"
"karna kau di ciptakan spesial oleh Tuhan" ini lah jawaban yang paling ku sukai.

ya, air yang berwarna indah itu hampir tak sabar ingin segera membahagiakan seorang wanita dengan alirannya yang membuai. tapi aturan tetap aturan. pintu air akan ku buka penuh hanya setelah aku menikah. ya, penuh ku buka agar meluap semua sekalian. agar lebih kuat gelombang yang menghantam. agar tenggelam dalam kami terhanyutkan.

aku memegang kunci bendungan ini. sering kali isi bendungan ku bergejolak saat ada gadis anggun berjalan lewat di depan pintu bendungan, tapi selama aku belum selesai berkemas dan mencukupi bekal untuk pelayaran ku, aku gak akan membuka kunci untuk siapapun. meski kadang isi danau bergejolak kuat oleh pesona beberapa wanita yang di inginkannya, tapi tetap harus ku simpan kunci ini.
"tenang lah dulu gelombang mulia.. bidadarimu gak akan salah arah."
"bersabarlah cinta..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar