satu kamar, dua orang
mereka selalu mengobrol. kadang berdebat.
tama: "kau selalu membuatku kesulitan mengatakan semua. pada hal aku ingin mengatakan semua dengan rapih dan sistematis.."
ode: "katakan saja. tentang apa, perempuan? pekerjaan? temanmu? masalah? katakan saja! aku akan mendengarkanmu."
tama: "ya, kau selalu tampak membantu. ...sebenarnya justru sebaliknya."
ode: "mau katakan ya katakan saja. nggak usah sinis gitu. atau sudah nggak mau ngomong sama aku? realistis lah! aku yang ada di hadapanmu, dan aku di sini bersamamu."
tama: "jika mereka tidak jauh, tentu aku lebih memilih mereka untuk jadi pendengarku.."
sambil melempar tawa kecil yang menjengkelkan tama, ode mengambil sebatang rokok dan membakar ujungnya. kemudian di sisapnya dalam-dalam.
ode: "kau hampir prustasi kemari. kenapa?"
tama: "bisa nggak, gak pake rokok?"
ode: "enggak."
dan perbincangan membosankan kembali terjadi. kali ini mereka kembali berdebat. kadang pembicaraan mereka begitu tak berguna dan duma membuang waktu. tapi di beberapa saat tama merasa dapat di dewasakan. sayangnya tama lebih sering menemukan keputus asaan.
diri bukan menjadi diri
terselubung kabut dalam hati,
sulit ku mencari diri
kecilnya tangan dan merah,
pangkas kuasa ku gapai diri
saat teman temukannya,
aku hanya mengukur diri
jam 5 pagi. tama dan ode bersama banyak teman sepekerjanya telah berlama-lama menunggu bis jemputan yang akan membawa mereka menuju tempat upacara kemerdekaan negaranya. hampir semua karyawan hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam. dua tiga orang membawa kamera digital. tama sedikit menonjol dengan ransel besar di sebelah kakinya. ode mengenakan sweeternya dan satu tas kecil di pinggang yang berisi hp, sapu tangan, dan tentu bungkus rokok yang salah satu isinya menempel di mulutnya.
tama: "kau menghargai negara ini?"
ode: "nggak usah yang aneh-aneh deh!!"
ode membuang rokoknya yang tinggal separuh saat bis menuju para karyawan. puntung itu terpental dan hampir melubangi tas tama. "ku rasa enggak.." gumam tama. semua masuk bis. menuju jakarta.
tama heran kenapa ode begitu tidak menghargai negaranya. padahal itu sama saja dengan menghargai sebuah komunitas. hanya beda skala saja. seperti halnya menghargai rumah sendiri, kota kelahiran sendiri. tama bertanya-tanya, benarkah tidak ada seorang pun yang menghargai bumi sepeti keluarga mereka sendiri? bukankah itu hanya perbedaan skala?
jam 12 siang. dua orang lelaki berbaur dengan banyak orangyang sedang ada urusan dengan 'bepergian'. ini stasiun pasar senen. sedikit cuti dan rangkaian tanggal merah akan memperpanjang libur. tama akan pulang kampung. ode menemani tama. rel yang di lewati tama mengalami sedikit masalah. perjalanan lebih lama dari biasanya. 21jam dalam kelas ekonomi yang sesak di tambah banyaknya asongan dan pengamen terasa memuakkan kali ini. tama dan sup sesekali bercakap, tapi sama sekali tidak saling menghibur.
turun dari kereta api. ribuan pasang kaki menginjak kota tujuan. tama pulang. ode menebar pandang ke kota yang tak asing itu.
penyegaran dan pemulihan dari gerbong kotor dan sesak. tama selesai mandi di kamar mandi umum. menyisir rambutnya di depan cermin.
ode: "aku ikut ke rumahmu."
tama: "aku nggak punya banyak waktu di sini. jangan ganggu aku."
ode: "aku nggak pernah ganggu. kau tahu itu." sambil meniup asap roko dari ujung birirnya yang di runcingkan. membuat asap meluncur maju ke depan.
tama: "jangan sampai ganggu urusanku." menyemprot parfum ke kaosnya.
tama tak berkutik. selain ode selalu benar saat memberi alasan untuk menyangkal, dia juga bisa membuat masalah.
semua di masukkan ke dalam tas. dan tujuan berikutnya: rumah.
sabtu siang (dekat stasiun)
tama menyapa teman baiknya
sabtu sore (rumah)
tama memandang wajah-wajah keluarganya
tama menyapa keluarga teman baiknya di kampung
sup membeli sebungkus rokok mahal
sabtu malam (kampung)
tama mengajak adiknya jalan-jalan ringan dan membelikan makan malam untuk bapak dan neneknya. waktu sempit kayak gini jangan di sia-siakan buat hal nggak penting, pikir tama.tama mengunjungi teman cerita.
sup membuka bungkus rokok kelas berat. di taruhnya di tengah-tengah gerombolan teman nongkrong yang lama tak jumpa. sengaja dia tidak bawa korek agar teman-temannya nggak segan-segan ngambil rokok.
sabtu larut malam (rumah teman)
sofan: "ntar begadang aja. nonton anak-anak beraksi."
ode: "siip! biar tontonannya kurang ok, yang penting banyak temen. have fun!"
tama: "males lah! nggak mutu.."
sofan: "sebenernya aku juga agak males sih nontonnya.. ngumpul di warkop gimana?"
ode: "nah, boleh tuh.."
tama: "si sini aku kan cuma bentar. sayang waktunya. main kerumah ku aja sof.."
ode: "itu baru bikin malam sia-sia."
sofan berfikir, dan mengambil keputusan.
sofan: "ok, gitarnya bawain, nih!"
tama menang. ode pergi
minggu pagi (rumah tama)
bapak tama menanyakan materi
nenek tama menanyakan materi
teman menanyakan materi
nenek tama menanyakan materi
beberapa family menanyakan materi
nenek tama meminta materi
tama memberi adiknya materi
saudara teman menanyakan materi
tama mengingat-ingat materi
satu kotak besar,
dua lingkaran kecil di dalamnya.
lingkaran putih: "materi itu penting ya?"
lingkaran hitam: "ya. mana bisa bahagia tanpa materi? ini dunia."
putih: "mungkin bisa."
hitam: "sulit banget!"
putih: "tapi bisa."
hitam: "enggak. kurasa enggak..."
putih: "..."
hitam: "Tuhan menciptakan kemampuan kan? itu petani mu. materi hasil panennya. tiap orang punya petani sendiri-sendiri. tapi mungkin beberapa petani beda ukura."
putih: "jadi ini memang salah ku?"
hitam: "itu biasa, bukan? santay saja..."
putih: "aku ingin kau diam."
hitam keluar dari kotak.
lingkaran putih menuju sudut dan diam.
kemudian perlahan menjadi transparan.
tak lama kemudian,
tak ada lingkaran dalam kotak.
kotak di penuhi penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar